Langsung ke konten utama

Postingan

Kamu Tidak Normal

“Kamu Tidak Normal” Dwiza Rizqy Gulita mengantarkanku dan teman-teman sejawatku bermain di kebun sekolah. Kami ingin bermain bola kerincing. Kata pak guru, kami akan dikirimkan ke tingkat provinsi jika kami bisa memenangi pertandingan futsal sekabupaten ini. Hebat bukan? Nanti kami akan mendengar lebih banyak lagi teriakan-teriakan dari para supporter kami. Memang sih, mereka akan lama menangkap 'sinyal' pemberitahuan: gawang mana yang dibobol. Biasanya pencetak gol akan bersorak sebagai tanda selebrasinya. Bermacam-macam saja sorakan tiap pemain itu haha. Khusus jika aku yang menjadi pencetak gol, aku akan bersorak, ‘Wuhuuuu satoee aye ayeee,’ karena 1 itu adalah sekolahku, SMA Negeri 01, kami biasa menyebutnya satoe (benar-benar ada huruf ‘o’ dan ‘e’ di penyebutannya). Dengan begitu, penonton dan teman-temanku langsung tahu tim siapa yang yang mencetak gol. Mungkin kalau aku sudah lulus SMA akan ada selebrasi baru lagi dariku hehe. Bagaimana aku bisa tahu kalau a...

Rumah Kaca (Serial Anak Kost): Seri Kak Nida

Rumah kaca bercerita tentang air yang terus keluar dari mata seorang gadis yang semula berkaca-kaca. Tetesan yang menceritakan tentang lembaran-lembaran buah pikiran yang tertolak berulang kali. Pun tentang sebuah waktu yang amat sayang dikorbankan untuk mengubah nasib. Beginilah nasibnya, metoda penelitiannya tak sesuai harapan pembimbingnya, meski telah berulang kali ia   mengubah sesuai saran pembimbingnya. Namun, tetap hatinya patah berulang kali di persidangan yang bukan pertaman kalinya. Jalan satu-satunya ia harus mengganti pembimbing, tetapi enam bulan ke depan yang harus ia korbankan dan pertaruhkan.Oh, mahasiswa tingkat akhir yang selalu dinner pakai lauk ayam skripsi.   “Kakak, jangan menangis terus. Ada yang mengintip di luar kaca itu. Apa kau tak malu?” tanya Via pada Nida. “Biarlah. Biar semua tahu betapa sakitnya terus-menerus ditolak seperti ini. Waktuku terkuras terus. Aku lelah berpikir.”   “Iyakah? Tak apalah, Kak. Teruslah semangat ...

Menjaga Izzah & Iffah

Assalamualaikum, cinta. Lama nian blog ini usang. Kini aku ingin membicarakanmu, cinta. Seorang adik bertanya padaku, "Kak, apa itu jodoh?" Sontak mataku terbelalak, mengapa dia bertanya demikian. Apakah ini tanda-tanda ia miliki calon? Oh, no, aku didahului hehe. Eh, tidak tidak, poinnya bukan itu. Lalu aku berpikir, dari mana aku harus menjelaskannya? Lantas berhari-hari aku memilih topik yang pas untuk dibicarakan. Lalu aku terpikirkan untuk berbicara tentang izzah dan iffah. Jelas ada hubungannya dengan jodoh. Untuk mendapatkan jodoh yang baik, kitanya pun harus baik, bukan? Nah, salah satunya adalah dengan membangun dan menjaga izzah dan iffah. Meskipun sebenarnya, niat kita harus lurus hanya karena Allah, ya. Bukan karena ingin dapat jodoh baik. Ingat, bukan untuk itu. Biarkan hal itu menjadi bonus saja. Izzah? Apa itu izzah? Izzah it's harga diri yang mulia dan agung. Singkatnya, kemuliaan. Sedangkan iffah adalah cara menjaga kemuliaan itu dengan menaha...

Heartbreak Becouse Your First Love

Heartbreak Becouse Your First Love Dwiza Rizqy Untukmu yang sedang patah hati, Tidurlah dengan senyum sebelum menutup matamu meskipun terpaksa, nikmati keindahan bangun di pagi hari tanpa melihat media sosial karena kau terlalu berharga untuk melihat tawa mereka Untukmu yang sedang patah hati, Minumlah secangkir susu hangat untuk menemani pagimu karena kopi terlalu pahit untuk situasimu saat ini Makanlah berbatang-batang cokelat karena biskuit belum mampu untuk mempermanis hatimu Untukmu yang sedang patah hati, patah seperti apapun, kau dapat merajut lagi Hiduplah untuk masa depan, kau terlalu berharga untuk disia-siakan Kupu-kupu indah, bukan? tapi jika kau mengejarnya terus, ia akan pergi, bahkan sangat jauh tapi jika kau tidak mengejar itu, keindahan itu akan datang dengan sendirinya Untukmu pemilik hati, kau terlalu berharga untuk disia-siakan . Rawamangun, 13 Maret 2017. (Don't worry about broken hearts to your first love, because you will ha...

Catatan Anak Jalanan

Alhamdulillah sudah sekitar sebulan lebih aku menempuh perkuliahan di Universitas Negeri Jakarta. begitu banyak pengalaman yang kuambil dan kurassakan. berbagai rutinitas yang sangat padat membuatku makin mengerti bahwa sedetik itu sangat berarti, itu bukan sekadar teori, itu telah menjada fakta dalam pola hidupku sekarang. Banyak pula diskusi di kampus yang membuat daya pikirku harus lebih kritis lagi. Wah wah wah...ini baru yang namanya mahasiswi. Selepas ospek, kegiatan anggota baru terus berlangsung seperti switer (studi wisata islam terpadu) yang dipanitiai kakak-kakak Tarbawi (nama Lembaga Dakwah Kampus fakultasku). Di sana banyak sekali pengalaman seru, terutama saat pentas yel-yel dan perenungan pada malah hari. Malam itu diliputi tawa saat menonton penampilan kelompok lain, lalu disusul derai tangis saat perenungannya. Perenungan saat itu berbeda daripada perenungan yang biasanya. Jika biasanya yang jadi perenungan adalah sosok orang tua yang akan meninggal, tapi di sana yan...

Purnama Masih Ingin Mendengar

Assalamualaikum, dunia. Malam ini gue mau kembali berkisah pada layar terpa, sambil mempersilakan purnama mengintip dari jendela. Tulisan ini gue ketik sekadar berbagi pengalaman setelah tanggal mengharukan itu datang di hadapan gue, yaitu tanggal 9 Juli 2015. Saat itu, detik demi dektik seakan mencubit jantung gue #tsaah hehe. Oke gue lebay, tapi gue memang deg-degan pol. Sebelum lo baca postingan ini, pastikan dulu lo baca postingan gue sebelumnya tentang pengalaman setahun gue setelah lulus SMA, yang berjudul ' Berkisah pada Purnama ' ya, Guys. Gimana? Sudah baca? Nah, itu dia pengalaman gue tahun lalu yang mellow abis. Gue lulusan 2014 yang gagal semua jalur seleksi PTN tahun lalu. Setelah kegagalan itu, semangat hidup gue melempem, gue masih sangat terobsesi untuk kuliah, tapi untuk kuliah di PTS itu mustahil karena keterbatasan ekonomi yang gue alami saat itu. PTS itu mahal, bro, dan saat itu gue belum dapat pekerjaan untuk bayar kuliah. Singkat cerita, akhirnya gue...