Selasa, 17 Oktober 2017

Rindu Menyendiri

Diposting oleh Oase Cinta di 00.24
Reaksi: 
0 komentar
Hal yang membuatku bingung adalah menangisi ketidaktahuan. Tidak tahu menagisi apa, tetapi hati gelisah mengundang air mengalir dari mata. "Hatimu terlalu lembek," umpat seseorang. Kupikir, semua hati manusia itu sama lembeknya, kok, sama-sama gumpalan darah, bukan? Hehe. Ya, kutahu maksudnya, aku terlalu perasa? Terlalu dalam memikirkan sesuatu tanpa lekas menjalankan apa yang dipikirkan.

Gelisah bermula dari berbagai hal yang tak sejalan dengan hati (keinginan) sendiri. Termasuk berlelah-lelah. Kamu pikir, aku yang suka menulis kalimat motivasi tak pernah hampir menyerah? Salah, aku pun miliki stok yang terbatas. Hampir menyerah kerap kali kurasakan. Ingin kabur, pamit undur diri, berhenti, sering ingin kulontarkan. Nyatanya aku tak bisa berbicaa pada sesiapa tentang hal ini. Aku yang mudah terbawa tekanan saat orang lain curhat, merasa takut juga jika yang kuajak cerita tertular low motivation sepertiku. Ditambah lagi aku malu, malu jika adik-adik di kampusku tahu bahwa aku tak pantas dianggap kuat nan tegar seperti beberapa yang pernah mengucapkannya padaku. Bukan, bukan haus pujian, hanya saja aku tak mau mereka tertular.

Betul aku miliki teman. Banyak yang mau menerima, dan satu yang sering bersama ke mana-mana. Namun, lagi-lagi aku malu untuk berkeluh pada mereka. Aku tetap pada penyendiriku. Hanya bantal, guling, dan seisi kamar yang paling tahu, ya...selain Allah tentunya. Berada di keramaian acap kali membuatku kelimpungan, makin pusing, makin gelisah, makin miliki banyak rasa yang membuncah di jantung hati. Aku tak suka dengan banyaknya orang membicarakan keburukan orang lain. Buruknya, aku ikut mendengarkan bahkan ikut menimpali. Dapatlah sudah dosa seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Aku tak suka terlalu banyak tertawa sampai sakit pipiku, lantas kembali hening dan disodorkan segudang amanah lagi yang tak kuat pundakku memikulnya. Aku tak suka segala yang menghambat keinginan diri untuk ini itu. 

Mungkin mudah saja bagiku untuk kabur dari semua. Meninggalkan apapun yang tak kusuka, selagi mubah hukumnya. Kalau segala yang menghasilkan dosa sudah tentu harus ditinggalkan, namun yang katanya menghasilkan pahala apa harus terus kupertahankan meski lelah? Ya, iya sih, segala yang gak kita suka belum tentu buruk menurut Allah. Termasuk segala amanah ini, belum tentu menurut Allah buruk hanya karena aku tidak suka dan tidak siap. Ya, katakan aku kekanakan. Ya, aku si bungsu yang childish. Ya.

Udara yang diputar oleh baling-baling kipas di depanku membisikkan, "Istighfar!!!"

Sedang aku masih pada lemasku. Aku masih lemahku. Aku masih pada diamku. Hanya jari yang membahasakan lelahnya tubuh ini. Namun jika menengok lagi, kutemukan banyak yang lebih runtuh raganya, tidak dengan jiwanya. Begitu pun para orang-prang sholih pendahulu, bukan? Mereka begitu mengorbankan raganya untuk berperang di jalan Allah tanpa menyerahnya. Tanpa ampun mereka terus maju membawa kalimat Allah. Lantas, bagaimana dengan diri? Ah. terlalu banyak alasan mengganjal langkah kaki. 

"Aku ingin menjadi orang biasa saja," kalimat tularan dari orang-orang sekitar. Hufh, tapi...ketika mendengar kata Firdaus-Nya, tak absen diri mengacungkan tangan. Hah, picik sekali diri ini. 

Yeah, bolehkah aku rehat sejenak? Sehari saja. Menjauh dari rutinitas yang memusingkan kepala, melelahkan tenanga dan batin. Bukan aku tak bersyukur, aku hanya ingin menarik busur panah, yang semoga kelak dapat melesat tepat pada titik tujuannya. Yang menjadi pertanyaan, apakah tujuanku sudah jelas dan tepat? Jika belum, ah looser sekali diri ini.

Mungkin benar hari ini aku hanya butuh rehat sejenak. Menikmati keindahan menyendiri. Bermain kata, minum secangkir susu hangat, membuat kelompok di dalam organisasi (haha amanah lagi). Yeah, aku hanya rindu menyendiri. Meski kata orang, "Dengan bersama saja kita lemah apalagi sendirian." Biar, tak apa. Juga biarlah ketika air mata mengadu ke lantai meski dengan makna entah. Biarkan saja dulu.

Aku dengan diriku


Sabtu, 16 September 2017

Sebuah Ujian yang Rahasia

Diposting oleh Oase Cinta di 19.35
Reaksi: 
0 komentar
Entah sejak kapan hatiku terpaut padanya, seseorang yang begitu lembut bicaranya, namun juga kadang suka bandel, sih.  Gemas, pikirku. Istighfar berulang kali, tapi bagaimana? Aku tak bisa menghilangkan pikiran ini begitu saja. Memang begini lah kalau VMJ (Virus Merah Jambu) sudah menyerang, repot. Seperti lagu Maya Estianti, "Aku mau makan, kuingat kamu. Aku mau tidur juga kuingat kamu..." Halah! Menyebalkan! Apa lagi jika ditambah senyum-senyum sendiri. Halah!

Aku harus apa? Jika dikatakan cinta adalah ujian? Ya. Cinta adalah perlawanan? Ya. Jika itu adalah pada yang bukan mahramnya. Ya, menguji iman kita apakah tetap murni miliki niat segalanya hanya pada Allah atau tidak. Ya, membuat kita melawan batin ini agar tidak mengeluarkan kode-kode halus ataupun keras, jika memang belum siap melangsungkan akad.

Terlebih lagi lagu Akad-Payung Teduh yang sering kali diputar remaja masa kini, terbayang dialah yang menyanyikan untukku. Muncul pertanyaan, apakah dia mau denganku, apakah perasaanku akan bertahan sampai lulus kuliah? Ohya, dia kan ada rencana akan S2, apa aku nanti tidak keburu diambil orang? Atau jangan-jangan nanti dia sama yang lebih muda lagi. Yah, kecewa. Eh... Halah halah halah!!! Pikiran yang menyebalkan!

Perasaan yang sepertinya baru-baru saja kumiliki, baru-baru saja kudasari. Baru kusadari ternyata sudah lama, loh, aku merasa kagum dengannya. Sudah lama, loh, aku merasa dia begitu baik. Ah, tapi dia memang orang yang baik pada semua orang, bukan hanya denganku saja. Jangan GR deh, wahai diri! Haha! Duh, bala! Repot, kan?!

Bagaimana bisa aku melupakannya, jika setiap hari saja bertemu. Satu organisasi, meskipun dalam departemen yang berbeda. Pacaran, sih, tidak. Teman tapi mesra pun gak sama sekali. Brother zone? Gak lah, ya. Friend zone? Hmm, yaa kami memang berteman. Salah? Tidak, kan? Lagi pula bukan statusnya yang dipermasalahkan, tetapi perasaan ini. Allah, ampuni aku.

Aku berpikir, bagaimana jadinya jika delapan semester menelan pil pahit-manis macam ini. Kuatkah? Kuatkah aku menanggung dosa dari mata ini ketika melihat senyum manisnya? Belum lagi dari telinga saat mendengar suara lembutnya. Belum lagi dari hati yang kerap terbawa perasaan dengan chatt yang sekadar "iyaa", "oke", "sip". Hanya itu padahal.

Fitrah, katanya. Miliki perasaan pada lawan jenis. Dari pada dengan sesama jenis? Hii menakutkan. Namun bukan itu poinnya. Poin masalahnya adalah telah miliki harapan pada selain Allah. Aku takut menduakan-Nya.

Ini artinya, Allah mau aku meningkatkan lagi keimanannku pada-Nya. Mendekatkan diri lagi pada-Nya lewat ibadah-ibadah, lewat tartilnya bermanja-manja dengan Alquran, lewat khusuknya takbiratul ikhram di sepertiga malam, lewat basahnya bibir dengan dzikir dan sholawat, dan banyak lagi. Ah iya, jangan mau kalah sama dia yang lagi semangat memperbaiki diri. Oh iya, tapi lagi-lagi niatku harus hanya karena Allah, bukan yang lain. Ya, ini ujian dari-Nya, bisakah aku memurnikan niat pada-Nya? Hanya hatiku yang tahu.

Ujian lagi ketika ada adik tingkat yang dengan isengnya melemparkan ledekan "ciee ciee" pada kami, entah karena apa. Seketika tawa malu-malu kami mengudara begitu saja. Krik krik. Aduh!

Semoga Allah mengampuni perasaan ini. Aku hanya berharap pada Allah untuk menguatkan hati ini untuk menyederhanakan rasa, karena hanya Allah lah yang bisa membolak-balikkan perasaan hamba-Nya. Mungkin di luar sana juga banyak yang mengagumi kebaikannya, atau mungkin...ada juga yang mengagumiku? Hehe PD banget. Entahlah. Bukan urusanku saat ini. Biarlah semua menjadi rahasia-Nya dahulu, sebelum waktunya tiba.

Tapi... apa yakin akan tiba? Bagaimana jika kematian mendahuluinya?

Kesempurnaan Cinta

Diposting oleh Oase Cinta di 18.46
Reaksi: 
0 komentar
Kesempurnaan Cinta

Belum cinta jika belum berkorban. Belum cinta jika belum bangkit dari keputus-asaan.
Belum sempurna jika belum memaafkan. Belum sempurna jika belum mau kembali meski dikecewakan.
Bukan, ini bukan celebek alias CLBK (Cinta lama bersemi kembali) ke lawan jenis. Ini adalah tentang suatu tawaran manisnya iman, suatu amanah yang mengantarkan ke surga-Nya. Ah, sulit dijalankannya, lelah, berliku, rawan kemunafikan, sedikit orang yang mau, banyak yang enggan, termasuk aku yang sempat demikian. Namun hadiah surga Allah begitu menggiurkan. Yakni, menjadi murobbiyah.

Pasalnya aku merasa belum miliki akhlak yang baik, ilmu yang banyak, dan tak lihai mengajak orang. Misalnya, mengajak untuk hadir liqo. Baru tahap awal mengajak hadir saja sulitnya bukan main, bagaimana mengajak untuk menjadi muslimah yang sebenarnya?

Lantas galau melanda. Antara lanjut menghadang kekecewaan yang berlarut-larut atau menyerah dan diri ini tergantikan begitu saja. Dua pilihan yang...sama-sama kuinginkan dan tidak kuinginkan. Ambigu. Bias.

Pasalnya aku kerap merasa dikecewakan. Sering memaklumi perizinan yang seperti dibuat-buat. Mungkin begini juga perasaan para murobbi lainnya. Aku jadi kembali mengingat bagaimana aku dulu, yang seringkali alpa dari liqo karena futur melanda. Alasan demam padahal demam karena mengurung diri, demam yang dibuat-buat sendiri. Ah, betapa menyebalkannya juga aku dulu.

"Kak, kapan kita kumpul lagi?" pertanyaan beberapa adik ketika berpapasan dalam suatu acara. Aku mengulum senyum, mengatur jadwal dengan mereka dan kembali memaklumi negosiasi mereka. Mungkin saja aku yang belum berhasil menanamkan urgensi mentoring padanya. Atau mungkin memang iman yang belum kuat sehingga demikian. Selalu muhassabah berhari-hari.

Kata murobbiyahku, begitulah menjadi murobbi, pengorbanan. Berkorban waktu, tenaga, pikiran, bahkan materi. Apalagi beliau, kesehatan menurun tak menjadi penghalang untuk hadir mengisi agenda halaqoh-halaqoh di kampus. Wah, jika dibandingkan memang jauh sekali. Ya, kuakui aku underastimed pada diri sendiri.

Namun, Allah ulurkan tangan lagi. Memberikan sejumlah ikhlas dan kesabaran. Itulah kesempurnaan cinta-Nya. Mungkin aku tak sempurna, cepat tersungut sehingga cepat mengambil kesimpulan dan keputusan. Namun Allah lah yang hadir menyempurnakan. Memberikan lagi kesempatan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Pekan lalu, adik-adik binaanku kembali melingkar dalam indahnya tarbiyah. Namun pada kalimat sebelum ini, aku cukup takut tidak bisa mencapainya, "binaanku", apa? Binaan? Yeah, semoga bisa membina, bukan membinasakan. Kupikir, semua murobbi juga pernah merasakan ketakutan yang sama. Namun, ya, seharusnya tak perlu menunggu sempurna terlebih dahulu untuk menjadi murobbi, meneruskan risalah Rasulullah SAW. Seperti halnya jika kelak memiliki anak, itu juga adalah amanah besar yang tak perlu menunggu kesiapan kesempurnaan akhlak, karena memang sebaik-baiknya akhlak adalah Rasulullah. Tak bisa kita menunggu demikian. Memiliki mutarobbi (binaan), atau murid, atau saudara, atau sahabat, atau anak, semua adalah amanah dan tanggung jawab besar yang seharusnya tidak kita hindari hanya karena merasa belum siap. Memang begitulah sabar, butuh ikhlas yang mendampingi, butuh ikhtiar dengan harapan penuh pada Pemilik kesempurnaan cinta. Selagi masih bernapas, hanya Dia yang mau menerima kita kembali berulang kali. Jika Dia saja mencintai kita sebegitunya, bagaimana dengan cinta kita pada-Nya?

Rabu, 17 Mei 2017

Kolase Rasa Kamar 03

Diposting oleh Oase Cinta di 08.33
Reaksi: 
0 komentar



Image result for gadis sedih kartun
Hai, gadis.
Kali pertama kulihat kelembutan wanitamu, yakni melalui bulir itu. Kau merintih entah apa sembilumu. Kau berkata dalam telepon genggam, entah apa yang diadu. Kuhanya dengar kau ucap lelah. Awan di atas kepalaku gambarkan kaki berlari, lisan teriak, hati retak. Kau, sambut semua di atas bantal kesayanganmu. Genangan itu kau umpatkan dengan membalikkan bantal itu. Namun, maafkan tanganku yang belum sanggup membelai hatimu.

Hidup memang keras, namun yang terpenting bukan hati yang keras. Seperti, tak pernah terisak sedu-sedan. Kini kau bayar itu, kau patahkan kekata menusuk dari orang lain. Namun lagi-lagi, isakmu pasti sebab diri sendirimu pula. 

Sudahlah, gadis. Dengar saja suara di seberang pesawat teleponmu. Lembut dan gagahnya suara itu, nikmatilah. Pertahankan rasamu. Jarak memang sebuah uji yang membisu, dan kata akan jadi bermakna ketika bertemu. Namun apalah daya, tahan dahulu, sampai waktu merestuimu 'tuk bersua pada yang terkasih: abah dan ibu.

Teruntukmu, yang kerap buatku beku.
Rawamangun, 17 Mei 2017




Jumat, 21 April 2017

Kamu Tidak Normal

Diposting oleh Oase Cinta di 01.03
Reaksi: 
0 komentar

“Kamu Tidak Normal”
Dwiza Rizqy

Gulita mengantarkanku dan teman-teman sejawatku bermain di kebun sekolah. Kami ingin bermain bola kerincing. Kata pak guru, kami akan dikirimkan ke tingkat provinsi jika kami bisa memenangi pertandingan futsal sekabupaten ini. Hebat bukan? Nanti kami akan mendengar lebih banyak lagi teriakan-teriakan dari para supporter kami. Memang sih, mereka akan lama menangkap 'sinyal' pemberitahuan: gawang mana yang dibobol. Biasanya pencetak gol akan bersorak sebagai tanda selebrasinya. Bermacam-macam saja sorakan tiap pemain itu haha. Khusus jika aku yang menjadi pencetak gol, aku akan bersorak, ‘Wuhuuuu satoee aye ayeee,’ karena 1 itu adalah sekolahku, SMA Negeri 01, kami biasa menyebutnya satoe (benar-benar ada huruf ‘o’ dan ‘e’ di penyebutannya). Dengan begitu, penonton dan teman-temanku langsung tahu tim siapa yang yang mencetak gol. Mungkin kalau aku sudah lulus SMA akan ada selebrasi baru lagi dariku hehe. Bagaimana aku bisa tahu kalau aku mencetak gol? Ya, berawal dari penjaga gawangnya, sebelum pencetak gol bersorak selebrasi, dia terlebih dahulu bersorak. Semua berjalan mengalir begitu saja dengan kekuatan pendengaran kami.
“Andi!” seruan pak guru memecahkan lamunanku.
“Iya, Pak Hasan?” aku segera menghapiri suaranya.
“Ini bapak membawa teman baru untuk kamu dan teman-temanmu. Namanya, Mata Nurulinsyah. Kamu antar ke teman-teman kamu, ya. Kalian harus berteman baik. Nanti dia akan menjadi teman baik kalian untuk persiapan pertandingan futsal selanjutnya,” jelas pak Hasan. Sebuah telapak tangan baru menggenggam tanganku untuk bersalaman.
“Hai, salam kenal, ya,” katanya sangat ramah.
Aku menggandengnya ke arah suara teman-temanku. Kubuka omongan kepadanya, “Kakak saudaranya Pak Hasan?”
“Iya, keponakan. Aku juga seumuran sama kamu, kok. Aku sudah biasa diajak Pak Hasan untuk menjadi pendampingnya di pertandingan-pertandingan futsal yang besar. Aku biasa duduk di sampingnya untuk memberi tahu jika ada yang bermain curang,” ceritanya sambil berjalan denganku.
“Waaah, bagaimana bisa?”
“Kamu baru tahu, ya? Orang sepertiku memang jarang-jarang ada di dunia ini. Aku bisa melihat dunia ini dengan berbagai hal yang aneh. Ohya, aku juga pernah melihatmu dengan diam-diam menaruh surat cinta di kolong meja perempuan. Waktu itu aku sedang ikut Pak Hasan berkeliling sekolahmu hehe. Benar, kan, itu surat cinta?”
Orang ini aneh, pikirku. Aku melepaskan gandenganku dari lengannya. Aku tak bergidik, merasa seram.
“Hei, maaf, ya, bukan maksudku untuk membuatmu malu. Andi, teman-temanmu ada di sebelah kanan kita. Kamu jangan ke kiri!” serunya.
“Iya... aku tahu. Aku bisa mendengar gerak-gerik mereka, kok!”
“Kok kamu terlihat kesal, sih?” tanyanya
“Kamu tuh yang ngeselin! Aneh! Bagaimana kamu bisa melihat itu? Kan kita semua cuma bisa melihat hitam. Ya, kata guru-guru, orang tua, dan teman-teman, yang kita lihat ini hitam. Fungsi mata kita hanya untuk melihat hitam. Kita tahu semua informasi di dunia ini ya hanya dengan suara. Kamu jangan cerita yang aneh-aneh, deh. Kamu gak normal!” ups, barusan aku melempar kata-kata kasar padanya. Astaghfirullah.
Aku tak mendengarnya berbicara lagi. Mungkin dia tersinggung. Duh, maafkan aku. Dalam hitungan sepuluh, tiba-tiba dia kembali cerewet, kali ini bukan padaku cerewetnya, “Pak Hasaaan, jadi dari tadi nguping, ya? Jangan nguping doong! Ini urusan anak muda!” seketika Pak Hasan menggelak tawa.
Beuh, jangan-jangan rahasiaku memberi surat cinta ke Wirda ketahuan beliau. Malu. Aku langsung saja berjalan ke arah suara teman-temanku. Mereka sedang asik ngobrol tentang primadona kelas rupanya. ‘Yeuh, lu pada ngomong ape, Ntong? Wirda cuma buat gue ajaaa!!!’ teriak hatiku. Untung mereka tidak mendengar cerita dari Mata tadi tentang surat cinta itu. Hufh. Hei, mereka ini lebih dari teman-teman seperjuanganku di SMA, loh. Kali pertama kenal di lomba debat saat SMP, ternyata masuk ke SMA unggulan yang sama juga. Mereka ini teman makan, teman curhat, teman lomba, teman belajar, juga teman saingan merebut primadona kelas, pasti aku yang menang karena akulah leader mereka haha. Sombongnya diri ini.
“Bro, ada yang mau kenalan, tuh, di sana. Namanya Mata Nurulinsyah,” kataku memotong obrolan mereka.
“Wah, namanya bagus. Mata yang bercahaya, artinya,” jawab Rudi. Apa orang tuanya menamakan itu karena dia bisa melihat selain hitam? Bisa jadi.
 Aku segera memanggil Mata, ternyata dia masih menaggapiku dengan ramah. Dia sama sekali tidak merasa sakit hati dengan perkataan buruk dariku. Kepribadian yang baik, patut jadi teladan. Hanya saja, dia cerewet.
“Hai, semuaa. Salam kenal, ya. Aku Mata,” katanya riang, “Ih kamu ngapain gigitin rumput? Haha,” katanya spontan kepada temanku yang memang senang banget gigitin rumput, hufh, “Hei, kalian kok cuma bertiga sih? Katanya mau latihan main futsal? Eh tapi gapapa deh, kita kan hari ini cuma mau main dan kenalan aja kan, ya. Ohya, Andi, kamu suka es gak? Itu ada tukang es podeng di sana, beli gih, pakai uangku gapapa. Es podeng itu enak tau, selain kelihatannya menarik karena warna-warni, aku suka,” kan, dia banyak bicara, padahal tidak ada yang bertanya tentang ini-itu.
“Salam kenal, Mata. He,” sambut Rudi, terdengar risih menjawabnya.
“Salam kenal juga, ya. Namaku Roni,” temanku—yang hobi gigitin ujung rumput—ikut menjawab.
Mata memberiku uang. Kuraba. Ini berjumlah Rp100.000. Wow, tajir juga dia.
“Beli lima gelas, ya,” katanya. Ingin kuberkata, ‘Kenapa gak kamu aja yang beli ke sana? Gak sopan nyuruh-nyuruh!’ tapi dia sudah baik mau belikan cuma-cuma huhu. Kuturunkan, deh, emosiku.
Aku menghampiri tukang es podeng yang mengentung-ngentungi gong kecil. Sesuai pesanannya, aku membeli lima gelas. Sambil terus membatin, seperti apa dia sebenarnya. Mata Nurulinsyah? Mata yang bercahaya? Aku mengerti cahaya itu yang sering menerangi mata ini. Kadang aku melihat gelap yang sangat pekat ketika malam, dan warna-warna lain ketika menghadap matahari. Ini yang disebut cahaya. Ya...tapi teman-temanku yang lain ada yang mengatakan, sama sekali tidak mengerti apa itu cahaya. Namun, dalam pelajaran di kelas, kami sepakat bahwa cahaya adalah seuatu yang terang. Dalam kecepatan, cahaya juga kecepatan yang sangat cepat dibanding kecepatan-kecepatan lainnya. Hmm, apa benar itu makna namanya Mata Nurulinsyah? Tersebab ia berbeda dengan kebanyakan manusia? Iya, berbeda. Fungsi matanya tidak hanya bisa melihat gelap saja. Ia bisa tahu dengan benar aku mengendap-endap menaruh surat cinta di kolong meja Wirda. Bagaimana bisa? Dia, kan, gak menabrakku waktu itu. Dia juga bisa tahu ada es podeng di sini padahal tadi pedagangnya belum memukul gong kecil ini. Ih, dia itu kenapa, sih? Benar-benar gak normal. Baru kutemui orang seperti dia.
Lalu sebenarnya di dunia ini ada apa? Seramnyaaa kalau dia bisa melihat segalanya. Kalau aku jadi dia, sepertinya aku akan mudah menyontek saat ujian sekolah. Eh, niat buruk hehe. Gak, gak. Kalau aku jadi dia, aku pasti bisa lebih mudah lagi bersaing dengan teman-teman untuk mendapatkan cinta Wirda. Ohya, aku juga bisa tahu seperti apa Wirda itu. Hmm, perspektif cantik menurut Mata itu seperti apa, ya? Menurutku, kan, karena suara Wirda itu merdu. Aku juga pernah tak sengaja menyentuh punggung telapak tangannya saat ingin menyentuh mejanya. Halus seperti kulit bayi hehe. Iya, iya, bukan mahram, kan gak sengaja.
Hmm, kalau aku seperti Mata, mungkin aku bisa tahu segalanya tentang Wirda tanpa harus mendekatinya dahulu. Aku bisa tahu sebenarnya Wirda suka sama siapa tanpa harus mendengar ceritanya terlebih dahulu. Ya, meskipun kurang tepat, tapi setidaknya aku bisa tahu gerak-geriknya suka sama siapa. Ett, tapi bisa jadi dengan begitu aku jadi usil ke cowok yang disukai Wirda (kalau ternyata bukan aku yang dia suka). Lebih baik tidak tahu, daripada menambah dosa. Pun sakit hati kalau tahu cinta bertepuk sebelah tangan dengan mudahnya. Hufh, iya, kuakui aku lelaki cengeng, mudah luluh dan labil. Tak suka padaku? Tak perlu jadi temanku.
Es podeng sudah di kantung. Aku membawanya dengan kerepotan, jariku penuh membawa es-es ini. Kalau tidak gratis, aku malas membawanya. Aku mendekati posisi tadi, mereka masih asik ngobrol, rupanya. Mata sudah cerita apa saja, ya? Hmm, baiklah, sejujurnya aku penasaran dengan dirinya, meskipun aku gengsi mengakuinya. Bisa-bisanya dia memasuki dunia teman-temanku, padahal hanya aku yang selalu menjadi leader. Oke, aku harus merendahkan hati lagi, tidak boleh sombong. Kuakui ketidaknormalan dia membawa suatu hal baru untuk kami.
“Es podeng sudah datang!” seruku
“Wooooow. Azeeeek!” seru semua, tak terkecuali Pak Hasan.
Ini memang hari libur yang menyenangkan. Kami terbiasa menghabiskan minggu pagi dengan berolahraga di lapangan dekat sekolah bersama pelatih futsal kesayangan kami ini, Pak Hasan. Ia menerima es podeng beserta meminta kembaliannya, lalu suara resleting tasnya menandakan ia menaruh uang itu ke dalam tasnya. Halah, kukira itu uang Mata, ternyata uang pamannya. Pantas saja uangnya banyak hehe.
“Sini, Andi duduk,” Mata menepuk-nepuk tanah, tanda mempersilakanku duduk.
“Kamu banyak ketinggalan, Ndi! Dari tadi kita ngobrol seru banget, loh! Mata orangnya unik, ya. Awalnya kita gak percaya, tapi ternyata bener, loh. Aku tadi angkat dua jari, lalu dia bisa menebaknya tanpa meraba jariku. Kuangkat tiga jari pun dia bisa menebaknya lagi. Aku heran,” jelas Roni. Aku makin bingung dibuatnya.
Apa benar? Ah, mungkin dia hanya seperti pendekar dari gua hantu mungkin, ya? Yang kepekaan telinganya sangat peka. Tapi mengapa dia mengakunya tahu semua itu dari fungsi matanya? Ih, gak normal!
“Hehe, iya, Ndi. Maaf, ya, semua, kalau aku membuat kalian bingung. Orang sepertiku memang jarang ditemukan. Keseharianku bermain, ya, bersama orang-orang seperti kalian juga. Terkadang aku merasa sendirian karena berbeda sendiri. Aku melihat hal-hal aneh, tetapi tidak ada yang percaya denganku, termasuk mamaku sendiri. Ia menaggapku aneh, mama masih belum terima memiliki anak sepertiku. Kalau bapakku pasrah dan diam, meskipun sepertinya beliau juga merasa aneh denganku. Cuma Pak Hasan aja yang mau support tumbuh kembangku dan megarahkanku untuk mengoptimalkan hal-hal yang kubisa dengan baik dan untuk kegiatan-kegiatan yang baik.
Hidup ini berwarna-warni, teman. Seperti es podeng ini. Teman-teman komunitasku yang bisa melihat juga, menyebutnya berwarna-warni. Ada warna merah, hijau, hitam, putih. Aku melihat warna-warna itu di dalam gelas ini. Seperti hidup ini, selalu ada masalah ataupun kejutan bahagia. Semua ada porsinya sehingga rasanya enak. Hidup ini enak kalau kita menikmatinya dengan porsi yang cukup. Meskipun banyak yang mem-bully, banyak yang menjauhi, tapi ternyata di tempat lain ada juga yang kagum, ada yang menemani, ada yang mau saling membantu. Indah, bukan, jika kita mau mensyukuri semuanya?” jelasnya runut, membuatku terperangah.
Aku langsung menyambar, “Ya ampun, maaf ya, Ta. Tadi aku bilang kamu gak normal. Karena yang kami tau, memang normalnya kita hanya bisa melihat gelap terang aja. Maaf banget, ya, kalau itu membuat kamu sakit hati. Gak ada maksud...”
“Sst, sudah, tidak apa. Aku sudah biasa, kok, hehe. Pernah dibilang orang gila juga, kok, karena sering cerita hal-hal yang membuat orang sekitar kebingungan. Jadi aku sudah memaafkan kamu sebelum kamu memintanya, kok. Berarti, aku diterima, nih, jadi teman kalian?” tanyanya.
Aku dan teman-teman langsung memeluknya haru. Siapa yang tidak mau berteman dengan orang berhati berlian sepertinya? Pak Hasan yang hanya diam sedari tadi pun ikut menepuk-nepuk pundak Mata. Ya, hidup ini beragam rasanya. Berwarna-warni kalau katamu. Semoga dengan berwarninya hidup ini membuat kita semakin lapang lagi menerima berbagai hikmah yang ada. Tak ada yang sia-sia dari segalanya, termasuk hal terburuk dalam hidup sekalipun.
Mata Nurulinsyah memang bukanlah orang kebanyakan yang ada di dunia ini, sehingga disebut tidak normal. Namun, bukan berarti itu menjadi cemoohan yang harus dilontarkan padanya. Kita harus bisa saling menerima keunikan masing-masing. Ia dengan warna-warni, dan manusia kebanyakan—termasuk aku—dengan gulita.

(Sebuah cerpen dengan pemutarbalikkan realita)

Kamis, 06 April 2017

Rumah Kaca (Serial Anak Kost): Seri Kak Nida

Diposting oleh Oase Cinta di 09.56
Reaksi: 
0 komentar



Rumah kaca bercerita tentang air yang terus keluar dari mata seorang gadis yang semula berkaca-kaca. Tetesan yang menceritakan tentang lembaran-lembaran buah pikiran yang tertolak berulang kali. Pun tentang sebuah waktu yang amat sayang dikorbankan untuk mengubah nasib. Beginilah nasibnya, metoda penelitiannya tak sesuai harapan pembimbingnya, meski telah berulang kali ia  mengubah sesuai saran pembimbingnya. Namun, tetap hatinya patah berulang kali di persidangan yang bukan pertaman kalinya. Jalan satu-satunya ia harus mengganti pembimbing, tetapi enam bulan ke depan yang harus ia korbankan dan pertaruhkan.Oh, mahasiswa tingkat akhir yang selalu dinner pakai lauk ayam skripsi.
 
“Kakak, jangan menangis terus. Ada yang mengintip di luar kaca itu. Apa kau tak malu?” tanya Via pada Nida.
“Biarlah. Biar semua tahu betapa sakitnya terus-menerus ditolak seperti ini. Waktuku terkuras terus. Aku lelah berpikir.”  
“Iyakah? Tak apalah, Kak. Teruslah semangat berjuang! Belum ada yang ingin melamar, kan?”
“Ah, kamu. Ini bukan tentang jodoh, ini tentang orang tua.”
“Ya sudahlah, minta restu saja sama orang tua agar semester depan saja bersamaku memakai selempang sarjananya. Sekarang kita bermain Pou saja lah sejenak,” rayu Via membuat Nida geram.
  “Viaaa!”
“Weits, what’s up sist? Hehe,” ledek Via sebelum kabur meninggalkan Nida yang masih setia dengan sedu sedannya.
Air yang keluar dari mata yang semula berkaca-kaca itu kini merayu pemiliknya untuk lelah. Namun, ternyata 3600 detik berlalu  dengan kesetiaannya tersedu dalam rumah kaca. Siapapun melihatnya. Cicak, bunglon, nyamuk, semut, jangkrik, belalang kupu-kupu siang makan nasi kalau malam minum susu. 100 detik kemudian, ia luluh dengan rayuan air matanya, ia lelah, hingga lengah untuk kemudian lelap.
Kini rumah kaca terasa sepi senyap, selain suara dentingan keyboard penulis dan teriakan-teriakan Pou yang meminta dimandikan—dari kamar sebelah. Akhir kalimat, penulis meminta pertolongan pada Ar-Rahman Ar-Rahim, agar dengan kasih sayangnya dapat memberikan keputusan yang terbaik untuk tokoh utama ini. Semoga apapun hasilnya, kapanpun gelar S.Pd-nya, tetap diberikan hikmah yang bermakna serta keberkahan dari Allah SWT untuknya. Aamiin Yaa Allah.
Selamat tidur. ^_^

 (Tulisan ini ditulis pada Februari 2017)
 

Rizki Dwi U Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting