Kamis, 06 April 2017

Rumah Kaca (Serial Anak Kost): Seri Kak Nida

Diposting oleh Oase Cinta di 09.56
Reaksi: 



Rumah kaca bercerita tentang air yang terus keluar dari mata seorang gadis yang semula berkaca-kaca. Tetesan yang menceritakan tentang lembaran-lembaran buah pikiran yang tertolak berulang kali. Pun tentang sebuah waktu yang amat sayang dikorbankan untuk mengubah nasib. Beginilah nasibnya, metoda penelitiannya tak sesuai harapan pembimbingnya, meski telah berulang kali ia  mengubah sesuai saran pembimbingnya. Namun, tetap hatinya patah berulang kali di persidangan yang bukan pertaman kalinya. Jalan satu-satunya ia harus mengganti pembimbing, tetapi enam bulan ke depan yang harus ia korbankan dan pertaruhkan.Oh, mahasiswa tingkat akhir yang selalu dinner pakai lauk ayam skripsi.
 
“Kakak, jangan menangis terus. Ada yang mengintip di luar kaca itu. Apa kau tak malu?” tanya Via pada Nida.
“Biarlah. Biar semua tahu betapa sakitnya terus-menerus ditolak seperti ini. Waktuku terkuras terus. Aku lelah berpikir.”  
“Iyakah? Tak apalah, Kak. Teruslah semangat berjuang! Belum ada yang ingin melamar, kan?”
“Ah, kamu. Ini bukan tentang jodoh, ini tentang orang tua.”
“Ya sudahlah, minta restu saja sama orang tua agar semester depan saja bersamaku memakai selempang sarjananya. Sekarang kita bermain Pou saja lah sejenak,” rayu Via membuat Nida geram.
  “Viaaa!”
“Weits, what’s up sist? Hehe,” ledek Via sebelum kabur meninggalkan Nida yang masih setia dengan sedu sedannya.
Air yang keluar dari mata yang semula berkaca-kaca itu kini merayu pemiliknya untuk lelah. Namun, ternyata 3600 detik berlalu  dengan kesetiaannya tersedu dalam rumah kaca. Siapapun melihatnya. Cicak, bunglon, nyamuk, semut, jangkrik, belalang kupu-kupu siang makan nasi kalau malam minum susu. 100 detik kemudian, ia luluh dengan rayuan air matanya, ia lelah, hingga lengah untuk kemudian lelap.
Kini rumah kaca terasa sepi senyap, selain suara dentingan keyboard penulis dan teriakan-teriakan Pou yang meminta dimandikan—dari kamar sebelah. Akhir kalimat, penulis meminta pertolongan pada Ar-Rahman Ar-Rahim, agar dengan kasih sayangnya dapat memberikan keputusan yang terbaik untuk tokoh utama ini. Semoga apapun hasilnya, kapanpun gelar S.Pd-nya, tetap diberikan hikmah yang bermakna serta keberkahan dari Allah SWT untuknya. Aamiin Yaa Allah.
Selamat tidur. ^_^

 (Tulisan ini ditulis pada Februari 2017)

0 komentar:

Posting Komentar

 

Rizki Dwi U Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting