Minggu, 11 Oktober 2015

Catatan Anak Jalanan

Diposting oleh Oase Cinta di 01.29
Reaksi: 
0 komentar
Alhamdulillah sudah sekitar sebulan lebih aku menempuh perkuliahan di Universitas Negeri Jakarta. begitu banyak pengalaman yang kuambil dan kurassakan. berbagai rutinitas yang sangat padat membuatku makin mengerti bahwa sedetik itu sangat berarti, itu bukan sekadar teori, itu telah menjada fakta dalam pola hidupku sekarang. Banyak pula diskusi di kampus yang membuat daya pikirku harus lebih kritis lagi. Wah wah wah...ini baru yang namanya mahasiswi.

Selepas ospek, kegiatan anggota baru terus berlangsung seperti switer (studi wisata islam terpadu) yang dipanitiai kakak-kakak Tarbawi (nama Lembaga Dakwah Kampus fakultasku). Di sana banyak sekali pengalaman seru, terutama saat pentas yel-yel dan perenungan pada malah hari. Malam itu diliputi tawa saat menonton penampilan kelompok lain, lalu disusul derai tangis saat perenungannya. Perenungan saat itu berbeda daripada perenungan yang biasanya. Jika biasanya yang jadi perenungan adalah sosok orang tua yang akan meninggal, tapi di sana yang jadi perenungan adalah sosok diri kami sendiri yang akan meninggal. Saat itu kami diperintahkan menulis surat wasiat, begitu terpukulnya hati kami membayangkan jika itu benar-benar terjadi, sedangkan masih banyak dosa-dosa kami pada orang tua kami.

Aku dan teman-teman serumah di villa saat acara switer. Nama-namanya tidak kuhapal semua hehe.

Dua minggu setelah itu, ada lagi acara penginapan, namanya OAB FIDE (Orientasi Anggota Baru Forum Idekita). Fide adalah UKM yang kupilih di fakultasku, karena di sana aku bisa meneruskan minatku dalam dunia kepenulisan. Apalagi konsen di fide adalah karya tulis ilmiah, yang mana itu adalah jenis tulisan yang sangat belum kukuasai. Meski konsennya di bidang pengkajian isu-isu terkini dan penulisan KTI, tapi Fide juga tidak menutup kesempatan untuk yang mau menulis fiksi, semua itu bisa tersalurkan lewat program bulletin yang selalu diluncurkan tiap dua bulannya.

dari kiri atas; Riza, Affia, Nina, Deana, Bena, Heni, Desi, Aida, Aisyah, Ratna, Uni Lina, Luthfi, Nur Affia, Puspita, Utami, Erfan, Gita, saya, Dian, Nabila, Icha, Windy, Wafa, Warda, dan Rahmat.

Di tengah-tengah kegiatan itu, masih banyak lagi tugas-tugas kuliah yang menumpuk dan tugas latihan pose (pojok seni). Aku yang merasa menjadi koordinator kelas merasa kelimpungan. Hampir depresi aku saat takbiran Idul Adha kemarin. Saat teman-teman pulang kampung, aku sendirian di kostan berpikir untuk pose. Ingin menangis kok ya makin lelah, mau tertawa kok ya gila. Alhasil cicak-cicak di dinding kamarlah yang menertawaiku terlebih dulu. Hah!

Hari demi hari terus berlalu, detik makin berarti. Juga rupiah makin memprihati (prihatin). Alhamdulillah rezeki telah Allah atur, aku dapat job mengajar les privat kelas 7 SMP. Lumayan untuk ongkos. Tapi, jika dihitung-hitung pakai matematik manusia, tentu tidak cukup. Besar pasak daripada tiang, padahal lelah juga. Aku kalut, padahal kebutuhan darurat ada saja. Hampir luntur keyakinanku, Astagfirullah. Pikiran-pikiran nakalku kembali bersarang. Tapi Alhamdulillah, motivasi dari sahabat-sahabat kudapat. Akhirnya aku belajar sabar lagi. Aku makin kuat keyakinan bahwa Allah gak akan telantarkan hamba-hamba-Nya. Innallaha ma'aa shobiriin. Yang penting kita sabar. Allah pun sudah mengatur seberapapun rezeki kita semua, Matematika Allah itu berbeda dari matematika manusia. Mungkin sekarang terlihat kurang, tapi nyatanya Allah pasti beri saat kita benar-benar membutuhkan. Kita punya kebutuhan darurat, tapi Allah pun punya reseki-rezeki dadakan.

Mengajar malam hari sampai pulang larut malam, itu sudah biasa. Biasanya aku menumpang tidur di rumah teman saudaraku di Pondok Kopi, karena muridku dekat daerah itu juga. Teman saudaraku ini yang menawarkan anak murid padaku. Jika tidak mengajar, aku pulang ke rumah saudaraku di Tebet. belum lama aku memutuskan untuk tidak mengekost lagi, yaitu akhir September 2015. Semua barang-barangku kutitipkan di kost teman, lalu sedikit-sedikit kubawa ke Tebet. Jika aku terlanjur kelewat malam di kost teman, aku menginap di sana. Benar-benar anak jalanan aku ini hehe. Tak mengapa, bagiku, kini bukan masalah betah atau tidak, yang terpenting aku masih bisa hidup layak. Mau tidur, ada kasur, atau tinggal merem saja bisa tidur meskipun sedang berdiri di busway hehe. Lalu, mau makan, ya tinggal makan saja, yang terpenting halal. Alhamdulillah. Fabiayyi alaa irabbi kumaa tukazzibaan.

Dengan semua kelelahan itu, aku begitu merindukan rumah di Cileungsi, rindu isi rumahnya, yaitu cerewetnya ibu dan abah, rengekan adik sepupuku, dan banyak suasana Cileungsi yang sulit tergambarkan dengan kata-kata. Kini, aku sedang menderta homesick. Tumben saja aku berat hati untuk kembali berangkat ke ibu kota. Baru semalam aku sampai rumah, sekarang harus pergi lagi dan entah pulang hari apa nanti. Aku makin sulit memprediksi waktu. Bisa saja sekarang aku bilang besok aku akan pulang, tapi nyatanya aku gak pulang-pulang. :(
Baru kali ini aku menangis di kesendirian hanya karena akan berangkat kuliah lagi. Rasanya aku belum sempat memeluk ibu dan bercerita panjang seperti biasanya. Oh waktu, cepat sekali berlalu. Apa daya, memang ini yang harus kujalanai. Ini adalah pilihanku demi menggapai cita-cita dan masa depan yang cemerlang, kelak demi orang tua juga.

Inilah saatnya pendewasaan, bahwa gak selamanya kita ditemani orang tua. Ada saatnya kelak kita berpisah dengan mereka, dan bisa jadi benar-benar berpisah dimensinya. Tapi aku gak akan berpikir sejauh itu dulu, yang terpenting aku haru bisa terus berjuang untuk mereka. Harapan terbesarku, semoga kelak bisa bersama-sama dengan orang tua ke syurga-Nya. Aku sangaaaat berharap, mama bisa mengenakan jilbab secara sempurna, dan terbiasa setiap hari. Aamiin.

Sejak aku jadi pejalan, hidup nomanden, aku terus penuh pikiran. Beberapa waktu ke depan tak luput dari pikiranku, seperti, apa yang harus kubawa, aku  mau ke mana, dan aku mau ngapain. Semoga apapun aktivitasku tetap dilindungi Allah Swt. Aamiin Yaa Mujiibassailiin. Meski begitu, aku sangat bersyukur, aku bukan sebenar-benarnya anak jalanan yang benar-benar hidup di jalan, panas-panasan jualan tissue/koran. Gak. Aku masih bisa hidup di dalam rumah,bukan gerobak. Yaa Allah, aku sangat bersyukur atas nikmat-Mu, maafkan atas segala kekufuranku. Namun, aku merasa menjadi anak jalanan karena ya aku sering berjalan hehe. Nikmati saja, inilah nikmatnya memiliki kaki yang masih sempurna fungsinya. Alhamdulillah. ^_^

Mau ke mana aku sekarang? (ala ala Dora the explorer)

Senin, 13 Juli 2015

Purnama Masih Ingin Mendengar

Diposting oleh Oase Cinta di 17.42
Reaksi: 
2 komentar

Assalamualaikum, dunia. Malam ini gue mau kembali berkisah pada layar terpa, sambil mempersilakan purnama mengintip dari jendela. Tulisan ini gue ketik sekadar berbagi pengalaman setelah tanggal mengharukan itu datang di hadapan gue, yaitu tanggal 9 Juli 2015. Saat itu, detik demi dektik seakan mencubit jantung gue #tsaah hehe. Oke gue lebay, tapi gue memang deg-degan pol. Sebelum lo baca postingan ini, pastikan dulu lo baca postingan gue sebelumnya tentang pengalaman setahun gue setelah lulus SMA, yang berjudul 'Berkisah pada Purnama' ya, Guys.
Gimana? Sudah baca? Nah, itu dia pengalaman gue tahun lalu yang mellow abis. Gue lulusan 2014 yang gagal semua jalur seleksi PTN tahun lalu. Setelah kegagalan itu, semangat hidup gue melempem, gue masih sangat terobsesi untuk kuliah, tapi untuk kuliah di PTS itu mustahil karena keterbatasan ekonomi yang gue alami saat itu. PTS itu mahal, bro, dan saat itu gue belum dapat pekerjaan untuk bayar kuliah. Singkat cerita, akhirnya gue mendapatkan pekerjaan mulai November. Seperti postingan sebelumnya yang harus lo baca tadi, gue udah beberapa kali pindah kerjaan. Kerja di ruko dan pabrik itu sangat menyita waktu. Gue bener-bener gak bisa belajar dan latihan soal SBMPTN, padahal gue masih berobsesi untuk kuliah.
Akhirnya, Alhamdulillah gue pindah kerja ke salah satu SD setempat menjadi staff Tata Usaha, sampai sore, kadang hanya sampai siang. Lalu dilanjut mengajar bimbel hari selasa dan kamis daro sore sampai malam. Alhamdulillah, jadwal itu membuat gue lebih leluasa untuk belajar banyak lagi. Gue pinjam buku latihan soal SBMPTN milik teman. Tiap malam gue baca dan isi latihan-latihan soalnya, tapi gue pusing gak ngerti-ngerti sama maksud penjelasan soalnya. Hingga suatu hari, gue lihat ada status fanpage facebook dari Zenius, yang berisi artikel blog zenius.net yang berjudul 'Kalo gua baru mau belajar SBMPTN dari sekarang, masih sempet ga ya?', gila nusuk abis. Gue pengen nangis di situ. Bulan udah April, tandanya udah dua bulan lagi menuju tes, tapi usaha gue masih di bawah 50%. Gila gak tuh? Ini sih namanya bukan tekad, tapi nekat! Huehue
Gue baca-baca lagi beberapa artikel blog Zenius. Ada tentang cara memanage waktu, tentang tips mengerjakan soal, info penting SBMPTN, sampai testimoni para peserta SBMPTN tahun lalu. Itu semua bikin gue greget banget. Hingga akhirnya jari gue berujung pada link pembelian voucher belajar bareng Zenius. Pokoknya gue harus bisa kayak orang-orang kece yang testimoninya gue baca itu. Gue harus tembus SBMPTN 2015. Harus!
April is my staaaart! Menginap di rumah saudara untuk belajar di laptop miliknya itu sudah sangat biasa. Gue sering begadang di rumahnya demi nonton video-video edukasi dari Zenius. Gue yang lulusan IPA aja nyantol banget sama pembahsan ekonomi yang dijelasin sama Bang Sabda. Gue jadi bisa tahan kantuk yang luar biasa demi belajar ekonomi itu. Kece abis deh pokoknya. Dua bulan gue pergunain secara baik-baik. Karena gue gak mau jatuh di lubang yang sama. Gue terinspirasi banget sama salah satu video inspiratif dari Zenius, di situ dijelaskan bahwa, "Orang cerdas adalah orang yang bisa belajar dari pengalaman orang lain, orang pintar adalah yang bisa belajar dari pengalamannya sendiri, dan orang bodoh adalah yang tidak bisa belajar dari pengalamannya sendiri." Jleb! Kata-kata itu nusuk banget. Ah, gue gak mau jadi orang bodoh. Oke, semenjak itu gue bener-bener serius belajar lagi.
9 Juni 2015 datang, hari yang mengharuskan gue tenang setenang-tenangnya, meskipun nyatanya nervous. Gue bisa berusaha tenang, karena gue inget banget saran sahabat gue yang udah diterima jalur SNMPTN tahun lalu.
 "Kamu harus tenang, ya. Dulu pertama kali aku ikutan lomba OSN Fisika juga aku usahakan mengerjakan setenang mungkin, padahal sebenernya aku gak jago fisika lho, tapi lhamdulillah aku lolos sampai tahap-tahap selanjutnya," katanya tahun lalu. 
Tahun lalu gue nervous abis, gak ada tenang-tenangnya. Semua rumus yang penah dipelajari terasa remuk gitu aja di kepala gue. Tahun sebelumnya memang gue ambil tes saintek, karena gue terobsesi banget sama matematika, tapi apa daya gue gagal di semua jalur tes. Padahal gue udah repot banget ngurusin bidikmisi. Hingga akhirnya 2015 ini gue putuskan ego gue. Seperti kata Zenius, gue harus belajar dari pengalaman. Gue ambil shosum. Malah lebih enjoy belajar ekonomi dibanding belajar fisika, kimia, dan biologi. Entah waktu SMA gue salah jurusan atau memang kebanyakan main aja hehe. Mungkin memang MIPA bukan passion gue.
Kembali ke hari tes. Di hari itu gue pergi ke Bogor sama teman SMA gue yang juga ikutan SBMPTN (lagi). Alhamdulillahh gue dapat tempat tes yang dekat, sedangkan teman gue lebih jauh lagi. Setelah sampai di TKP, kami chatting-an, saling mendoakan yang terbaik untuk kami. Ya, sebab doa tanpa usaha hanyalah kesia-siaan, dan segala usaha tanpa doa adalah kesombongan. Maka, sebisa mungkin kita yang beragama Islam, sempatkanlah bangun di sepertiga malam untuk mendirikan sholat dan berdoa seyakin-yakinnya, dan tawakal jika semua proses telah selesai. Begitu juga untuk agama lainnya, berdoalah dan beribadahlah sesuai keyakinannya, seyakin-yakinnya.
Jarum jam menunjukkan waktu sore. Tes usai, gue keluar kelas dengan masih sangat tenang. Berjalan seorang diri seperti tanpa beban, padahal isi kepala gak berhenti-hentinya berharap sama Allah untuk diloloskan. Di gerbang sekolah tempat gue tes tersebut sudah berjejer mahasiswa PTS terdekat, mereka membagikan brosur-brosur kampus mereka. Sambil menyunggingkan senyuman, gue ambil semua sodoran brosurnya. Seketika, gue sadar, perjuangan belum usai. Gue mikir, kalau seandainya gue gak ketrima PTN lagi, gue mau kuliah di PTS mana? Apakah ada yang murah? Sedangkan sekarang minat gue udah mantab di Pendidikan Luar Biasa dan Psikologi. Kebanyakan kampus dengan fakultas tersebut itu bayarannya selangit. Gaji gue gak cukup untuk kuliah jurusan itu. Huehue. Kalau PTN kan ada UKT sesuai kemampuan orantua, dan gue juga masih bisa berusaha mencari beasiswa lagi. Sampai bulan berganti Juli, otak gue masih mampet, beberapa laman web PTS degan prodi yang gue idamkan itu gak ada yang murah, apalagi grentongan alias beasiswa. Lagian gue gila aja sih, mana ada ilmu yang murah apalagi gratis tanpa syarat yang selangit. Hehe ngimpi di siang bolong, deh. Akhirnya gue pasrah aja sama Allah. Kalau gue gak ketrima PTN, gue masuk swasta dengan jurusan pendidikan matematika aja deh, meskipun sebenarnya semangat belajar matematika gue udah luntur. Tapi yang gue tekankan saat berdoa sih gak kayak gitu. Gue minta Allah ridhokan dan perkenankan gue dan sahabat-sahabat gue untuk lolos SBMPTN 2015 ini. Terlebih lagi gue, moga kelak dapat beasiswa dari semester awal sampai akhir, agar tetap bisa tetap memperjuangkan cita-cita tanpa membenakan orangtua hingga kemudian hari bisa membahagiakan mereka, bermanfaat bagi sekitar dan orang banyak di luar sana. Aamiin. 
Juli, detik demi detik mencubit jantungku. Itu status facebook gue saat tanggal 9 Juli 2015 hehe. Terlihat lebay, tapi siapa sih yang gak nervous menunggu pengumuman itu? Satu jam lagi, gue tunggu sambil berdoa. Tepat jam 17.00 WIB, gue pasang tampang histeris, mata melotot dan bibir membulat udah kayak ketelen sendal hehe, ya meskipun sebenernya gue belum lihat pengumumannya. Web yang gue buka error karena banyak dibuka orang lain mungkin. Gue coba tenangin diri, gak boleh gregetan. Bentar lagi buka puasa, gue gak boleh ngendog di kamar mulu. Ok, gue tangguhkan membuka web tersebut. Gue siap-siap buka puasa aja. Setelah buka puasa dan sholat maghrib, gue berdoa khusuk lagi. Tiba-tiba air mata gue terjun deras di pipi. Gue inget tahun lalu, antara egois pengin lolos dan pasrah terima apa adanya. Gue benar-benar minta sama Sang Pemilik Takdir. Sajadah, mukena, semua basah, hasil dari sesenggukan gue kala maghrib itu. Padahal gue belum buka webnya lagi, gokil kan gue? Hehe. Akhirnya gue beraniin buka web pengumuman SBMPTN 2015. Masih error juga, lalu gue alihkan ke web mirrornya aja, Alhamdulillah terbuka. Ketik ketik ketik, klik 'cari'. Dan MayaAllah, Alhamdulillah banget, ini berkat Allah, gue gak ada apa-apanya. Gue dinyatakan LOLOS, Emaaaaak. :'( Alhamdulillah banget. Sujud syukur sambil nangis, udah kayak sang juara lomba pencarian bakat di tv aja dah hehe. Setelah itu, gue langsung lari dari kamar ke ruang tamu. Gue kasih unjuk tulisan di hp gue itu ke ibu.
"Apaan sih?" tanya ibu kebingungan. *gubraaak*
"Ini penumuman SBMPTN-nya, Bu. Alhamdulillah banget Uut lolos di UNJ jurusan PLB. Uut jadi kuliah. Aaaa."
Ibu bengong.
Gue masih cengar-cengir.
"Sujud syukur!"
"Iya, Bu. Hehe."
Ibu gue flat banget ya tanggapannya? Hehe. Ya, karena dengan lolos PTN juga ini bukan akhir dari segalanya. Maih banyak tantangan di depan sana. Apalagi yang ibu pikir adalah biaya. Sebab tahun ini gue belum daftar bidikmisi seperti tahun lalu. Yang gue punya tahun ini cuma tekad dan nekat. Gue yakin, rezeki itu di tangan Allah, manusia hanya perantara. Secemas-cemasnya orangtua gue dengan pertanyaanya 'gimana nantinya kamu bayaran kuliah kalau udah gak kerja lagi?', gue bakal tetap tersenyum tenang, menarik napas, lalu menjelaskan kata-kata tadi bahwa, rezeki kita ada di tangan Allah. Mencari ilmu itu adalah berjihad, kalau kita berniat untuk berjihad, InsyaAllah Allah jamin.
Petualangan baru dimulai. Saatnya merevolusi mental. Kegagalan itu membuat gue banyak belajar tentang kehidupan. Kalau tahun lalu gue gak gagal, gue gak akan ketemu sahabat-sahabat baru dari berbagai komunitas, karena kehidupan mereka mengajari gue banyak hal, dari anak mami banget jadi anak mami aja. Ya tetep anak mami sih, yaiyalah masak anak kucing? Hehe. Seenggaknya gue jadi bisa berpikir lebih dewasa lagi.
Di petualangan baru ini, gue bakal atur langkah lagi. Apakah langkah gue makin mendekatkan diri pada-Nya, ataukah malah menjauhi-Nya? Nudzubillah. Semoga kita semua tetap dalah lindungan-Nya. Untuk teman-teman yang gagal, jangan berkecil hati. Masih ada jalur mandiri, masih ada tahun depan, masih ada PTS, atau bahkan pilihan untuk menikah dulu? Hehe. Life is our choice, but follow our heart is not anough, so we must keep follow Allah and Rasulullah. Tetap tenangkan hati. Silakan tertawa, tapi sebentar saja, sebab masih banyak tantangan di depan mata. Silakan menangis, tapi juga jangan terlalu lama, sebab di sana ada banyak kejutan istimewanya.
Yang perlu kita ingat, Allah gak akan kasih kita pilihan buruk. Ia Maha Tahu yang terbaik untuk kita semua. Adil itu bukanlah membagi rata dan sama untuk semua hambanya, tapi adil adalah membagi sesuai kadar ke tiap masing-masing yang diberi. Maka, apapun yang diberi oleh-Nya, sudah sepatutnya kita semua bersyukur dan mendekatkan diri pada-Nya. Ayo, kita semangatkan diri lagi, sebab purnama masih terus menunggu cerita petualangan kita, kawan!
Let's always try try try, and pray pray pray. See you in a happy future. Good luck!
Rizki Dwi Utami
Alumni SMA Muhammadiyah Cileungsi
Lolos SBMPTN 2015 di UNJ Jurusan PLB.
Alhamdulillah.
UNDZUR MA QOLA WALA TANDZUR MAN QOLA
(Lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan)
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

(tulisan ini diikuti dalam lomba menulis blog yang diadakan oleh Zenius.net)

Senin, 11 Mei 2015

Berkisah Pada Purnama

Diposting oleh Oase Cinta di 00.06
Reaksi: 
0 komentar


Berkisah Pada Purnama

Hampir setahun gue bukan jadi anak sekolahan lagi. Jatuh bagun lalu sedih, itu hal yang sangat biasa, yang luar biasa adalah ketika mau mencoba untuk bangkit lagi, tegap lagi, berjalan membawa hati hingga berlari.
Duh, gue jadi mendadak melankolis nih gegara ngeliat foto temen-temen di galeri hp gue. Betapa bahagianya wajah-wajah itu, tapi sekarang gue gak tau lagi kabar mereka. Padahal gak bisa dipungkiri bahwa gue kangen banget. Setiap mau ketemuan, selalu aja gak jadi.
Eh cuy, malming kumpul, yuk.
Yuk. Ke mana?
Terserah, lu mau ke mana?
Kalo gue sih ikut aja.
Mungkin sampai Shincan jenggotan juga gitu-gitu aja terus chattingan sama temen-temen di grup BBM. Padahal siapa sih yang gak kangen masa perjuangan di bangku sekolah dulu? Saat bersantai, gila-gilaan, sampai lari-larian karena belum ngerjain PR.
Kalau sekarang, berlari di perjuangan hidup yang nyata nih. Gak gampang, sebab ini bukan lagi sekadar menggambar impian di tembok-tembok kamar.
“Realita hidup ini bukan untuk orang manja, dan pura-pura gak berdaya”, sontak gue bilang gitu di depan cermin kalau lagi ngeluh sama semuanya. Hey sob, tapi itu gak semudah ungkapan jari pada keyboard ini! Pas acara perpisahan sekolah pun, gue ngerasa airmata ngalir gitu aja. Pas ngeliat temen-temen memasang senyum bahagia untuk difoto bareng orangtuanya, gue terharu banget, gue inget orangtua gue yang waktu itu gak ada di sisi. Pertanyaan demi pertanyaan terus tercipta, Nanti gue bakal lanjut ke mana?, Apa gue bisa jadi pelita bagi diri sendiri, orangtua, dan orang sekitar?, dan gak luput pertanyaan terpenting, Apakah Allah ridho dengan niat-niat hamba ini?
Ah, polesan make up gue jadi luntur deh waktu itu, gegara airmata  berlari di atas pipi tanpa permisi. Kesal juga berpikir rumit, toh semua belum dijalani. Kita gak pernah tau, kan, gimana nasib kita kalau belum berusaha? Dan inilah, kisah gue yang silih berganti setiap bulannya. Kalau purnama bisa dengar, kayaknya purnama juga gak ada capeknya nunggu gue cerita.
Sebelumnya, sebut aja gue Mawar, dan inilah, saat gue bekisah pada purnama.
***
Bulan pertama seusai UN, gue kerja di toko sekadar untuk ngisi waktu luang. Ini pengalaman kerja yang pertama loh. Capek sih, tapi lumayan bisa belajar dagang. Siapa tau aja kalau udah dewasa nanti gue jadi pengusaha.
Kadang, kalau lagi sepi gue suka mengulas soal-soal tes masuk PTN, atau sekadar baca buku di toko, soalnya gue ngarep banget bisa lulus tes PTN, supaya bisa kuliah gratis dengan bantuan bidikmisi.
Setiap pendaftaran PTN gue coba, dari mulai SNMPTN, SBMPTN, pendaftaran D3, sampai jalur tes mandiri. Ikhtiar belajar sudah, minta restu dan doa orangtua sudah. Namun apa daya, tangan tak sampai meraih kata 'Selamat' di pengumuman hasil tes. Lagi-lagi gue diberi kata 'Maaf' oleh web PTN penyelenggara tes tersebut. Sakitnya tuh di sono (nunjuk hati orang lain aja ya) *tear*
Sempat down, apalagi kalau ngeliat kekecewaan orangtua, tapi gue yakin banget, ini semua bukan kesia-siaan. Kalau ada orang lain yang bilang bahwa ini sia-sia karena otak gue yang gak pantes ikut berbagai tes tersebut, gue anggap itu cuma angin lalu doang. Bagi gue, siapa pun pantas untuk berkompetisi, selagi ada kemauan dan usaha mencoba. Kata 'mencoba' ini bukan dalam artian iseng-iseng, tapi 'mencoba' adalah berani aksi menjemput peluang-peluang yang ada, tapi kalau hasilnya gak memuaskan, mungkin memang Allah belum meridhoi jalan ini, dan harus banyak perbaikan diri lagi.
Singkat cerita, gue gak ada harapan lagi untuk kuliah tahun lalu, sebab kalau kuliah swasta gue harus berpenghasilan dulu. Sedangkan waktu itu gue masih nganggur.
Agustus. Gue males ke mana-mana, semangat gue pudar, males lamar kerja. Gue kalut, tapi kok ya ada kisah cinta yang datang. Awalnya gue nolak mulu, tapi akhirnya luluh juga. Gue khilaf, tapi berlangsung sebulan sih. Berarti, itu bukan sekadar khilaf deh, tapi doyan pada khilaf hehe. Padahal awalnya gue ogah banget untuk punya status relationship, sebelum bisa bahagiain orangtua dengan tergapainya kesuksesan di masa depan. Tapi nyatanya, gue matahin prinsip sendiri. Oh no! Apalagi ini bukan main-main, si doi ngajak nikah, Bro! Kalau dipikir ulang, gue bisa apa ngurus rumah tangga? Ngurus diri sendiri aja belum becus.
Sampai akhirnya gue disadarin sama omelan sahabat gue, "Untuk apa selama ini Mbak bolak-balik ke sekolah hanya untuk daftar kuliah kalau akhirnya Mbak mau nikah muda? Mbak ini masih kecil, ibaratnya masih seperti jantungnya pisang, Mbak pasti belum sanggup dengan kompleksnya masalah berumah tangga. Please, Mbak, kejar cita-cita dulu!"
Jleb! Gue langsung bener-bener sadar, gue galau lagi. Apalagi nyatanya mantan gue itu belum dateng ke rumah untuk melamar, dan gue pun belum cerita ke orangtua. Akhirnya gue cari waktu yang tepat untuk cerita ke orangtua. Setelah terpenuhi, bener aja orangtua gue gak setuju kalau gue nikah muda, meskipun dua tahun lagi, bukan langsung di tahun itu. So pasti, gue remukin hati sendiri, lelaki itu, dan yang paling parahnya menghancurkan hati mama.
Astaghfirullah. Alhasil, gue urungkan rencana nikah muda itu. Biar aja lelaki itu bilang apa. Gue cuma  peduli mama, gue gak mau mama nangis gegara kesalahan gue.
Pertengahan September keadaan batin gue ngambang kayak something di empang. Makin jatuh tapi tak mau, ingin tersenyum tapi terisak. Huehue
Purnama kian berganti, Oktober menampakkan wajahnya lagi. Waktu cepet banget, gue kayak baru bangun dari mimpi buruk yang dulu. Gimana gak? Itu udah Oktober dan gue masih nganggur! Gimana gak greget coba? Akhirnya gue semangat melamar kerja ke mana aaja, dari perusahaan sampai lembaga pendidikan yang berpusat di ibu kota, dan itu pertama kalinya gue pergi ke ibu kota sendirian. Alhamdulillah, gue berani. Sampai November, gue belum juga nerima panggilan kerja. Hufh! Yaudah deh gue keliling sebar lamaran lagi di perusahaan lain dan resto.  Alhamdulillah, yang dinanti-nanti tersampaikan sudah, pertengahan November gue diterima kerja di salah satu perusahaan. Lega, sangat bersyukur, satu target tercapai sudah.
Hei, guys, November pula gue kenalan sama sahabat-sahabat baru. Mereka adalah sahabat dari komunitas dakwah di ibu kota. Alhamdulillah, bersahabat sama mereka bikin hati ini jadi lebih tentram, jauh dari galau. Gue sangat bersyukur bisa ketemu mereka. Mereka yang latar belakangnya berbeda tapi punya satu tujuan menjadi aktivis dakwah, saling mengingatkan, berbagi cerita, tanpa ada kesombongan. Saat itu pun gue sadar bahwa, gue bukan orang yang paling menderita di dunia ini. Di luar sana masih ada yang nasibnya sangat memprihatinkan tapi semangatnya? Gak ada kalahnya, coy!
Kesadaran itu buat gue malu saat ngeluh atas berbagai kesulitan yang gue rasain. Daripada mengeluh lebih baik ciptakan solusi. Alhamdulillah rezeki berdatangan. Februari gue dapat amanah untuk ngajar bimbel. Maret gue beralih kerjaan, bukan lagi jadi buruh pabrik tapi jadi TU keuangan di salah satu SD di Cileungsi. Meskipun tanggung jawabnya lebih besar, tapi fisik gue gak begitu terbebani.
Sekarang gue nikmatin suasana baru, sambil kembali berjuang untuk tes SBMPTN 2015 ini. Semoga gue gak salah ambisi, meskipun sebelumnya gue rahasiain niat gue ini ke ortu karena takut buat mereka kecewa lagi, tapi akhirnya ketauan juga. Di sisi lain, gue menyayangkan diri yang udah berpikir negatif begitu. Seharusnya gue gak perlu mikirin hasilnya duluan, karena tugas gue cuma ikhtiar lalu tawakal.
Bulan Maret berganti nama lagi menjadi April, menandakan bahwa detik masih terus berputar. Hingga kini, gue berusaha untuk terus berpikir postitif, karena telah banyak belajar dari kekecewaan tahun lalu. Ternyata memang ini yang terbaik dari Allah. gue dikasih kesempatan untuk gak langsung terjun ke dunia perkuliahan, agar mental gue bisa ditempa dulu sama realita kehidupan yang kadang bebas dan kadang banyak aturan. Tinggal gue menjalani saat-saat menjadi seperti militer, atau saat-saat bebas mengepakkan sayap kreatifitas.
Semoga adik-adik yang bakal lulus tahun 2015 ini bisa membawa hati yang tenang, gak panik, dan fokus. Tetap tersenyum hadapi semua rintangan, ok? Sebab purnama masih setia menunggu kita untuk berkisah padanya. Mana semangat lo, Sist and Bro? Ini semangat gue!
Salam santun, dari Alumni salah satu sekolah tingkat SLTA di Muhammadiyah Cileungsi. *smile*

***

(NB: Tulisan ini dimuat di Majalah El-Qolam, tanpa pengeditan langsung saya publish di blog saya)

 

Rizki Dwi U Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting